Pasuruan, (kabarsidoarjo.com) – Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK), Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan gelar kegiatan Pelatihan Perawatan Jenazah, Senin (13/6/2022).
Kegiatan ini, diikuti seluruh kader PKK, baik guru TPQ, serta para guru Madrasah Diniyah, di Pendopo Balai Desa Bulusari Gempol Pasuruan.
Ketua TP-PKK Desa Bulusari, Siti Maria Ulfah mengatakan, bahwa tujuan diadakannya Pelatihan Pemulasaraan Jenazah adalah karena pelaksanaan perawatan jenazah merupakan kebutuhan pokok setiap orang, khususnya umat muslim.
Kata dia, pemulasraan jenasah biasanya tugas Modin (Kasi Kesejahteraan). Tapi, dari materi yang diberikan dalam kegiatan ini tak hanya cukup sampai ke ibu PKK saja. Diharap bisa digetoktularkan pada masyarakat secara luas.
“Kegiatan ini, diharap dapat memberikan pemahaman kepada para ibu-ibu PKK, tahu cara pemulasaraan jenazah. Apalagi bagi peserta yang takut dengan orang yang sudah meninggal, tidak takut karena sudah paham caranya,” katanya.
Lebih lanjut, dia yang juga istri Sekretaris Desa Bulusari menyampaikan, bahwa umumnya merawat jenazah hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah terbiasa melakukan.
“Melalui kegiatan semacam ini, akan terbentuk regenerasi dan belajar merawat jenazah bersama sebagai seorang muslim yang hidup bertetangga,” ujarnya.
Sementara, Modin Desa, Mustain Billah selaku pemateri memaparkan, bahwa merawat jenazah ada beberapa tahapan. Ada di antaranya, memandikan, mengkafani, mensholati, hingga mengantarkan ke tempat pemakaman (menguburkan).
Ia pun berpesan, agar saat melakukan proses memandikan jenazah, dilakukan dari pihak keluarga. Sehingga, jika ada aib atau penyakit, maka yang tahu hanya keluarga itu sendiri. Termasuk, saat sakaratul maut.
“Ada lagi, kepada keluarga jenasa agar tidak lupa melepas seluruh perhiasan atau gigi palsu jenazah. Kecuali yang merusak kehormatan mayit. Seperti, pen yang sudah terpasang di tulang,” tuturnya.
“Untuk bagian tertentu jenasah. Misalnya, aurat orang yang meninggal tetap tidak boleh terlihat oleh yang bukan mahrom. Jadi sebelum proses mandikan jenazah wajib di wudhu-kan dahulu,” sambungnya.
Salah seorang peserta, Lilik Menikah mengaku senang bisa mengikuti kegiatan Pemulasaraan Jenazah tersebut. Ia merasa mendapat wawasan tamabah dengan adanya kegiatan semacam ini.
“Bagus. Kegiatan tersebut bisa menambah wawasan, dan pengetahuan tentang jenazah. Sebab, saya belum tahu dan belum pernah ikut mengurusi orang meninggal,” pungkasnya. (Eko Setyawan)