SIDOARJO (kabarsidoarjo.com)- Sosialisasi Majelis Ulama Indonesia seputar pergeseran arah kiblat di Indonesia, mendorong puluhan siswa Taman Kanak – Kanak (TK) Aisyiyah Bustanul Atfhal V Bluru Kidul Sidoarjo, turut memahami arah kiblat dan tata Kota Jawa kuno.

Kepala Sekolah TK Aisyiyah Bustanul Atfhal V Bluru Kidul Sidoarjo, mengatakan, kunjungan ini dimaksudkan guna belajar bagaimana cara menentukan arah kiblat, sekaligus mengenal tata kota ala jawa kuno yang selalu menetapkan masjid disisi barat alun-alun kota.
“Untuk menyampaikan pemahaman tersebut kepada anak – anak, dilakukan melalui kegiatan mewarna denah masjid agung dan alun – alun Kota Sidoarjo lengkap dengan mata angin dan petunjuk arah kiblat, “ tutur Lita Erdiana, Kepala Sekolah, jumat (23/07/2010).
Ia menjelaskan, menghadap kiblat merupakan syarat sah salat.
Karena itu, seluruh masjid dan makam umat Islam dibuat menghadap ke arah kiblat,
“Awalnya arah kiblat diukur dengan melihat posisi matahari di atas kota Makkah yang dikenal dengan istilah ‘Istiwa A’ zam’ yang artinya saat posisi matahari berada tepat di atas kepala, dan peristiwa ini hanya terjadi di daerah antara 23,5 derajat lintang utara dan 23,5 derajat lintang selatan,” katanya.
Bila pada detiik – detik matahari sedang berada tepat di atas Kota Makkah, maka semua orang yang tinggal di berbagai belahan bumi lainnya yang masih bisa melihat matahari, akan dengan mudah bisa menetapkan posisi Kota Makkah.
Ia menambahkan, khusus di wilayah Indonesia untuk Waktu Indonesia Barat (WIB) pada detik – detik matahari di atas Kota Makkah pada tanggal 14 – 18 Juli terjadi pada sekitar jam 16.27 WIB.
“Ada beberapa cara untuk mendapatkan keyakinan arah kiblat seperti dengan menggunakan alat bantu teknologi Global Position System (GPS),” katanya.
Ia berharap dengan adanya kegiatan seperti ini bisa memberikan pemahaman anak sejak dini dan selanjutnya kelak dapat dikembangkan oleh siswa sendiri. (Arip)













