SIDOARJO (kabarsidoarjo.com)- Bertahan selama empat hari sejak Kamis (5/8/2010) di depan pintu masuk DPRD Sidoarjo, Puluhan korban lumpur dari empat Desa (Jati rejo, Siring, Kedungbendo dan Renokenongo ), akhirnya ditemui Bupati Sidoarjo Drs Win Hendrarso dan ketua DPRD Sidoarjo Dawud Budi Sutrisno, Senin (9/8/2010).

Bupati bersama ketua DPRD yang akan mengikuti rapat paripurna, menyempatkan waktunya untuk berbincang seputar tuntutan para korban lumpur ini.
Dalam dialog yang berlangsung sekitar 20 menit ini, Bupati dan ketua Dewan, menerima uneg uneg yang dilontarkan korban lumpur seputar belum tuntasnya pembayaran 80 % sisa ganti rugi dari pihak Minarak Lapindo Jaya (MLJ).
“Kami sudah bersabar selama empat tahun, namun hingga saat ini belum ada kejelasan,” terang Zaenal korban lumpur dari Renokenongo.
Selain Zaenal, beberapa korban lumpur juga tak segan mengeluarkan keluh kesahnya di hadapan dua pejabat Sidoarjo ini.
Bahkan ada korban lumpur yang terbilang sepuh, sedikit emosi ketika menceritakan kondisi ekonominya saat ini.
“Saya ini hanya punya lahan kecil, tapi kok belum dibayar bayar. beli garam saja sudah tidak mampu,” ungkapnya
Mendapatkan berbagai keluhan ini, Bupati Win Hendrarso menegaskan sudah berjuang cukup maksimal untuk menuntaskan persoalan ini.
“Persoalan sampean sudah saya laporkan ke tingkat Propinsi bahkan pusat. sekarang semua keputusan berada di pusat,” tutur Bupati.
Sementara itu menurut Muhammad Arifin kordinator aksi, seluruh kroban lumpur yang iktu alam aksi ini, akan terus bertahan hingga ada kejelasan tentang nasib mereka.
Pasalnya mereka melihat, pihak MLJ tidak memiliki komitmen yang jelas untuk menyelesaikan sisa pembayaran mereka.
“Kita akan terus bertahan sampai ada jawaban dari pemerintah maupun MLJ,” ujarnya.(Abidin)












