TANGGULANGIN (kabarsidoarjo.com)- Moch Syarif Hidayatullah (42) warga Perumahan Griya Permata Alam Blok JH-27, Desa Ngijo Kecamatan Karangploso, Malang, terpaksa datang ke Mapolsek Tanggulangin, Sabtu (16/10).
Pasalnya, ia mengaku sudah sangat kebingungan mencari dua anaknya, Erna Rahmawati (11) dan Tri Wibisono Tonawi (8), yang sejak 17 Agustus 2010 lalu, kabur dari pondok pesantren (ponpes) di kawasan Tanggulangin.

Syarif menceritakan, sejak pertengahan Juli 2010 silam, ia memondokkan anak pertama dan ketiganya itu di Ponpes Hidayah, Desa Ketegan Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Namun tiba-tiba, sekitar sebulan kemudian, dirinya menerima kabar dari pihak ponpes bahwa Erna dan Tri, kabur dari pondok.
“Katanya mereka kabur siang hari, saat jam salat dhuhur,” tuturnya.
Lelaki yang membuka warung kopi di kawasan Jl Kembang Jepun, Surabaya itu mengaku tak tahu pasti alasan kaburnya Erna dan Tri.
Namun ia berusaha mencari dengan menempelkan foto dan identitas keduanya di sejumlah tempat.
Dari upaya itu, akhirnya ada informasi kedua anaknya sedang bersama ibu kandungnya yang mengirim informasi melalui surat.
“Kebetulan, saya dan istri saat ini sedang pisah ranjang,” ungkapnya.
Surat itu mengungkap beberapa alasan kaburnya Erni dan Tri dari pondok.
Mereka mengaku tidak kerasan, bahkan mau mondok hanya lantaran dipaksa Syarif.
Di ponpes, mereka juga mengaku kerap menerima perlakuan kasar.
Seperti, jarang dibangunkan saat sahur. Dipaksa bangun untuk salat subuh, bahkan dicubiti.
Selain itu, rambut Erni juga dipotong paksa oleh dua teman sekamarnya, bahkan pernah dijambak oleh santriwati bernama Eva.
Meski begitu, Syarif tak terlalu percaya dengan isi surat itu .
Sebaliknya, ia justru meyakini tindakan Erna dan Tri disebabkan pengaruh Kinarsih yang sejak awal memang tak setuju keduanya dipondokkan.
Sebelumnya, Kinarsih bahkan juga sempat menakut-nakuti kalau tinggal di pondok tidak enak. Bahkan Erna juga ditakut-takuti akan dihamili oleh kiainya.
“Salah satu alasan memondokkan anak saya, agar tidak meniru ibunya. Karena menurut saya, sifat istri saya itu tidak baik. Tidak pernah salat, suka merokok, dan omongannya juga jelek-jelek. Jadi, mereka memang saya paksa mondok,” cetusnya.
Dari latar belakang tersebut, Syarif mengaku tidak yakin kalau kedua anaknya kabur atas keinginan sendiri, apalagi diculik orang.
Di balik itu semua, dirinya yakin, Kinarsih-lah yang menjadi dalangnya.
“Karena itu saya melapor ke sini (Polsek Tanggulangin), minta bantuan polisi untuk mencari anak saya agar semuanya jelas,” ujarnya.
Kanit Reskrim Iptu Wayan Suwardika mendampingi Kapolsek Tanggulangin Kompol Sartono membenarkan adanya laporan tersebut.
Pihaknya akan menindaklanjuti dan secepatnya mencari keberadaan kedua bocah tersebut. (Arip)













