SIDOARJO (kabarsidoarjo.com)- Saat ini wilayah ini sudah menjadi wilayah mitra metropolis Surabaya.
Tidak sedikit para pekerja dan pelaku usaha di Surabaya menggunakan Sidoarjo sebagai pengembangan lokasi usaha, homebase perkantoran, pusat koordinasi kegiatan bisnis jasa-perdagangan, dan berbagai aktivitas kreatif masyarakat menggali sumber-sumber penghasilan.

Semua ini tentu potensi yang perlu dikelola dan dioptimalkan sebagai salah satu kekuatan untuk membangkitkan perekonomian Sidoarjo dalam jangka panjang.
Namun pola pembangunan Sidoarjo lima tahun ke depan perlu dikembalikan pada hitah Sidoarjo sebagai kota Santri tanpa meninggalkan potensi alami sebagai kota industri dan kota singgah (Transit the Airport City).
Menurut Cak Kolik, ada beberapa hal yang perlu diprioritaskan untuk meningkatkan potensi pendapatan dan menghidupkan sumber penghasilan alternatif masyarakat.
Selain pengembangan kluster-kluster ekonomi berbasis perikanan tambak, perikanan darat dan home industri, di Sidoarjo utara perlu dicermati untuk pengembangan usaha pendukung Sidoarjo sebaga kota singgah atau kota industry.
Termasuk mengelola tata pembangunan fasilitas mall, gedung bioskop, dan fasilitas jasa-perdagangan terkait untuk diarahkan ke wilayah-wilayah di luar pusat kota untuk penyebaran pusat-pusat keramaian.
Sementara itu khusus home industri Tanggulangin, Pak Cip menegaskan para pengerajin tas dan koper Tanggulangin atau pelaku UMKM secara umum di Sidoarjo, perlu diberi bekal ketrampilan tambahan.
Misalnya, pemahaman tentang kebutuhan pasar, marketing, manajemen, info berbagai jenis model tas sampai kemampuan menghasilkan produk kualitas prima untuk pasar domistik dan luar negeri.
“Ingatkan saya, karena pembangunan potensi ekonomi daerah, perlu mengoptimalkan sektor UMKM dan informal. Tanpa kedua sektor tersebut, pembangunan ekonomi lokal akan berjalan sedikit timpang,” katanya (Din)














